Bayangkan kita memendam sebuah pertanyaan di benak begitu lama hingga pertanyaan itu menjadi bagian dari cara kita berpikir.
Itulah pertanyaan saya selama bertahun-tahun: bagaimana cara mempercepat proses belajar? Jika kita bisa belajar lebih cepat, kita bisa menghabiskan lebih sedikit waktu di sekolah — atau bahkan tidak perlu menempuh sekolah formal sama sekali. Pertanyaan itu telah membentuk hampir semua yang saya lakukan secara profesional selama lebih dari empat dekade.
Berdasarkan pertanyaan itu, dan pekerjaan yang telah saya lakukan selama puluhan tahun untuk menjawabnya, saya bisa katakan ini dengan percaya diri: kita bisa belajar bahasa Inggris — atau bahasa apa pun — jauh lebih cepat dan lebih menyenangkan daripada yang selama ini diyakini kebanyakan orang.
Saya tahu ini terdengar seperti promosi. Dulu saya juga sering meragukan klaim seperti ini. Tapi, ada sebuah paradigma baru yang sebenarnya ada di depan mata kita: saat kita menyelaraskan cara belajar dengan cara kerja otak yang sesungguhnya, kemajuan tidak akan lagi terasa seperti beban berat.
Tiba di Luar Negeri, 1981
Ketika saya pertama kali tiba di negara asing pada tahun 1981, banyak yang mengatakan bahwa seorang pemula butuh sepuluh tahun untuk bisa mahir berbahasa Inggris. Kelancaran berbahasa bahkan dianggap seperti sebuah fantasi. Pengucapannya dibilang “mustahil”. Kecepatan bicara penutur aslinya “tidak mungkin diikuti”. Tata bahasanya “benar-benar asing”.
Saat itu, saya tidak tahu banyak sehingga tidak merasa terintimidasi. Saya hanya bereksperimen.
Daripada duduk di kelas menghafal daftar kosakata, saya memperhatikan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya banyak mendengarkan — bahkan ketika saya tidak mengerti. Saya memperhatikan bagaimana mulut orang bergerak saat mereka berbicara. Saya menemukan orang-orang yang sabar dengan kesalahan saya, yang lebih peduli untuk memahami maksud saya daripada mengoreksi setiap kesalahan yang saya buat. Saya fokus pada kata-kata dan frasa yang benar-benar saya butuhkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan yang disuruh oleh buku pelajaran.
Dengan menerapkan wawasan psikologis tentang bagaimana otak menyerap bahasa, saya menjadi bisa bercakap-cakap dalam enam bulan. Belum sempurna — tapi sudah bisa berkomunikasi. Saya bisa menjalani kehidupan sehari-hari, berdiskusi secara nyata, dan mengungkapkan ide-ide yang penting bagi saya.
Selama beberapa tahun berikutnya, kemampuan saya mencapai tingkat penutur asli. Saya bahkan menerbitkan sebuah buku yang saya tulis sepenuhnya dalam bahasa Inggris — dan, yang mengejutkan, buku itu menjadi buku terlaris.
Pelajaran dari Pengalaman Tersebut
Pengalaman itu, dan perenungan selama bertahun-tahun setelahnya, mengungkapkan sesuatu yang saya kembangkan sepanjang sisa karier saya: sebuah pendekatan yang sangat berbeda tentang bagaimana seharusnya kita belajar bahasa apa pun. Pendekatan yang menjungkirbalikkan metode kelas tradisional yang berat pada tata bahasa. Pendekatan yang memperlakukan penguasaan bahasa baru bukan sebagai tugas akademis, melainkan sebagai petualangan yang bermakna dan ramah bagi otak.
Inti gagasannya ternyata sangat sederhana. Kita semua belajar bahasa pertama kita tanpa buku pelajaran, latihan tata bahasa, atau tes kosakata. Kita belajar melalui pendengaran, pemaknaan, hubungan emosional, dan interaksi fisik. Otak kita tidak berubah sejak saat itu. Yang berubah adalah, entah bagaimana, kita memutuskan bahwa orang dewasa harus belajar bahasa seolah-olah sedang belajar untuk ujian.
Padahal seharusnya tidak begitu.
Ini Berlaku untuk Bahasa Apa Pun
Ini berlaku untuk bahasa apa pun, dan terutama benar untuk bahasa yang terasa “jauh” dari bahasa ibu kita. Kebanyakan pembelajar berasumsi bahwa perbedaan berarti kesulitan. Padahal tidak selalu. Penelitian modern, dan banyak pengalaman nyata, menunjukkan bahwa dengan input, motivasi, dan latihan yang tepat, orang dewasa dapat membuat kemajuan pesat bahkan dengan bahasa yang terasa berbeda seperti Bahasa Inggris.
Di dunia saat ini, di mana semakin banyak orang ingin bepergian ke luar negeri, bekerja dengan perusahaan global, dan memahami budaya dunia, sangat penting untuk menggunakan metode yang mencerminkan cara otak kita belajar secara alami. Cara lama — menghafal, latihan, tes, ulangi — telah mengecewakan banyak orang selama puluhan tahun. Ada cara yang lebih baik, kok.
Saya telah menjabarkan prinsip-prinsip di balik pendekatan ini dalam 5 Prinsip Percepatan Penguasaan Bahasa dan langkah-langkah praktisnya dalam 7 Tindakan untuk Belajar Bahasa Apa Pun dengan Cepat. Dan sekarang, saya bersama salah satu pendiri, John Ball, sedang membangun Speech Genie — alat yang saya harapkan ada ketika saya tiba di luar negeri bertahun-tahun yang lalu.
Video TEDx saya, “Cara Belajar Bahasa Apa Pun dalam 6 Bulan,” telah ditonton lebih dari 36 juta kali dan bertahan di 10 besar TEDx selama lebih dari 12 tahun. Tapi sebuah video saja tidak cukup. Speech Genie adalah wujud nyata dari ide-ide tersebut yang dibangun menjadi sebuah sistem — yang didukung oleh AI Kognitif yang beradaptasi dengan kita, layaknya seorang Language Parent yang sabar dan suportif.
Jika saya bisa belajar bahasa Inggris dalam enam bulan pada tahun 1981 hanya dengan akal dan orang-orang di sekitar saya, bayangkan apa yang bisa kita capai bersama hari ini.

